Akibat Permainan HIGH RISK dibuat untuk KONSUMSI umum
Bogor – Sebelum kepalanya membentur aspal, Riska Putri Yulianti (7), sebelumnya ditulis 8 tahun, tewas terjatuh dari Flying Fox di Taman Wisata Matahari (TWM), Cisarua, Bogor sempat terlilit tali.
Riska terlilit oleh tali yang pengikat tubuh yang sebelumnya digunakan Bibi korban. Pada saat tali pengikat tubuh yang sudah digunakan bibi korban ditarik, tiba-tiba tali tersebut menyangkut dan membelit kaki korban yang saat itu posisinya belum dipasangi sabuk pengaman.
“Tubuh korban tertarik tali tambang sejauh dua meter dan saat itu posisi kepala korban berada di bawah karena kakinya terikat tambang. Korban akhirnya terjatuh dengan posisi kepala terbentur di aspal dengan ketinggian sekitar sepuluh meter,” terang Kanit Reskrim Polsek Cisarua, AKP Iwan Wahyudi.
Setelah korban terjatuh, para pengunjung lainnya yang menikmati liburan mendadak gempar. “Pengunjung langsung berhamburan dan korban yang terkapar di aspal langsung dilarikan ke rumah sakit guna mendapatkan pertolongan. Korban didampingi ibunya, Siti Nurfatimah,” terangnya.
Nahas, nyawa korban tak tertolong lagi karena lukanya sangat parah sehingga ia kehabisan darah saat tiba di rumah sakit. “Korban sempat dibawa ke RS Paru Cisarua. Karena lukanya sangat parah, akhirnya korban dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap. Namun dalam perjalanan, korban mengembuskan napas terakhir,” imbuh Iwan.
Perhatian untuk semuanya, bahwa permainan Flying Fox atau permainan – permainan High Rope lainnya adalah jenis permainan dengan resiko tinggi yang harus ditangani oleh para professional dan bukan untuk dikonsumsi secara umum. [radarbogor/mah]
















Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…
Semoga kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi dan bisa menjadi pelajaran yg berharga untuk kita semua, terutama penyelenggara permain serupa…
Salam EL,
Sebagai penggiat pelatihan berbasis pengalaman, saya amat sangat prihatin dengan kejadian ini. Kami menyerukan kepada pihak pemerintahan untuk membuat regulasi yang jelas mengenai keberadaan kegiatan Hi-Rope/Rope Access/Rope Course, yang memang beresiko tinggi ini. Ketika kegiatan ini dijual eceran layaknya jual kacang rebus dipinggir jalan…dan berakhir maut seperti beberapa kejadian di Ketep – Semarang, Borobudur – Magelang dan beberapa lokasi lainnya, pemerintahan juga mempunyai tanggung jawab atas terjadinya hal tersebut.
Sebagai informasi, rekan- rekan di beberapa asosiasi, yang saya tahu adalah AELI (asosiasi experiential learning Indonesia) dan ARAI (Asosiasi Rope Access Indonesia) sedang melakukan beberapa usaha agar pihak pemerintah segera menerbitkan regulasi yang jelas dan tegas. Untuk itu mohon dukungan dan do’a nya, agar jangan sampai hal ini terulang kembali di masa mendatang.
kayak kebakaran jenggot ya..klu udh begini…. saya paham wahana semacam flying fox dan hi ropes lainnya adalah “marketable” dan “menjanjikan”…. dan laris manis…. sampe2 kita sering tinggalkan SOP yang “Sama-sama Kita Pahami”… terlena… hal kecil dan sepele (kebayang ga dari tali transfer…). Tapi bagaimanapun kawan2 yang idup dari dunia ini (seperti saya juga) tetap semangat, jadikan sebagai renungan … katanya learning by experience…. Tetap Bravo