Tag Archives: retreat

Catatan Pinggir : Pesimis = Pengemis!

Inilah faktanya…

Salah satu ciri otak kanan adalah imajinatif, lantaran imajinatif, mereka cenderung optimis dan berani memiliki impian yang besar. Bahasa pilihan mereka adalah ” segala sesuatu itu, serba mungkin! “.

Sebaliknya, salah satu ciri otak kiri adalah realistis. Mereka cenderung pesimis dan tidak berani memiliki impian yang besar. Bahasa pilihan mereka adalah ” segala sesuatu itu harus masuk akal “.

Bagi orang yang memiliki otak kanan yang kuat, segala sesuatu itu serba mungkin!. Nothing is imposible, imposible is nothing!.

Share This:

TRIP KEMPING KE PULAU TIDUNG 16 – 17 Juli 2001

Mau mengisi hari libur dengan nuansa dan suasana berbeda?. Dengan biaya murah dan waktu yang relative terbatas.Kemping ditengah laut??, wah..boleh juga tuh!!.

Bayangin deh, siang hari, kita keliling pulau – pulau yang ada digugusan kepulauan seribu menggunakan perahu nelayan, seperti pulau semak daun, yang terkenal keindahan bawah laut dan pantai bersihnya. Dilanjutkan menikmati pemandangan bawah laut yang begitu mempesona..snorkling!!yuhuuu!!.

Sorenya, mandangin matahari tenggelam dari pintu tenda dengan suasana romantisnya, dilanjutkan bakar api unggun bersama rekan seperjalanan..huft!menyenangkan!sambil bakar ikan…hummm…yummmiiii….Ada yang tertarik?!Jika “ iya “, cepet daftarin deh!peserta terbatas.Kuota minimal 15 Orang, maksimal 30 Orang aja!.

Share This:

Pondok Halimun : Keindahan berpetualang di rimba eksotika

Ingin berkemah di temani Owa Jawa atau burung Elang ?!. Hmm..datanglah ke Bumi Perkemahan Bumi Halimun, Kab. Sukabumi – Jawa Barat. Kawasan wisata ini sering kali di hampiri oleh primata langka, seperti ; Owa Jawa, Surili dan Lutung. Langit birunya pun seringkali dilewati oleh burung Elang Jawa.

Sejumlah primata tersebut biasa bermain disebalah barat pingiran hutan yang jaraknya hanya 100 meteran daripusat keramaian di pondok Halimun. Jika cuaca sedang cerah, pengunjung bisa menyaksikan beberapa jenis burung Elang terbang berputar-putar dilangit biru. Diantaranya terdapat jenis Elang yang sangat langka dan hanya terdapat di pulau Jawa, Yakni Elang Jawa.

Share This:

Labuan Cermin : Danau Dengan Dua Rasa, Asin Dan Tawar

Jauh di pedalaman Kalimantan Timur sana, terbentanglah Danau Labuan Cermin. Danau bening ini istimewa, karena memiliki dua rasa air yang berbeda. Yaitu air tawar pada permukaan dan air asin pada bagian dasar danau.

Labuan Cermin terletak di Kecamatan Biduk – biduk, Kalimantan Timur. Jika dilihat di peta, letaknya tepat di punggung hidung Pulau Kalimantan. Tempat ini bisa ditempuh dalam waktu tiga jam perjalanan laut dari Derawan. Bagian atas danau Labuan Cermin berisi air tawar seperti air danau pada umumnya. Namun beberapa meter dibawahnya terdapat aliran air asin. Anehnya, kedua jenis air ini tidak tercampur. Secara kasat mata dapat dilihat bahwa air laut dan air tawar dipisahkan oleh lapisan serupa awan. Belum ada yang melakukan penelitian di daerah ini sehingga terbentuknya fenomena ini masih menjadi misteri. Lapisan keruh berwarna putih itu diduga hasil pembusukan organisme dasar labuhan yang terperangkap dan tak bisa pergi. Dua jenis air di danau ini juga menghadirkanorganisme dari dua dunia. Ikan air tawar hidup di permukaan, sedangkan ikan air laut bisa ditemukan di dasar danau.

Share This:

10 Penyakit Mental Manusia..Hiyyy…

Dunia Outbound

Self Reflexion

10 Penyakit Mental manusia ?!. Kedengarannya serem banget nih tulisan. Jangan – jangan dari 10 penyakit mental yang dibahas disini, pernah hinggap di diri kita. Lebih jelasnya, langsung aja kita baca yuk!. Apa aja sih..

1. MENYALAHKAN ORANG LAIN
Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan Kekanak-kanakan. Menyalahkan orang lain adalah pola pikir orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang Dipikirkan adalah : Siapa nih yang nyantet ? Selalu “siapa” Bukan “apa” penyebabnya. Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu “apa” sebabnya, bukan “siapa”. Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan jas. Kekanak-kanakan. Kenapa ? Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau ada piring yang jatuh,” Adik tuh yang salah”, atau ” mbak tuh yang salah”. Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu. Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu akan mencari sebab terjadinya sesuatu.

Share This:

Cerita Motivasi : ” Ilmu Ikhlas “

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia?, Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Share This: