Bagaimana Membangun Team Work Solid

swadharma duta data, team building, dunia outbound, outbound, outbond, cisarua, puncak, griya sawah lega, ykk zipco, pt. sdd, pt. swadharmaMembangun sebuah teamwork yang solid merupakan salah satu syarat mutlak agar sebuah organisasi / perusahaan dapat mencapai semua target yang ingin dicapai. Bicara tentang membangun teamwork yang solid, kita bisa belajar dari banyak hal. Termasuk dari alam liar / alam bebas disekitar kita.

Berikut artikel outbound yang disusun oleh tim dunia outbound, tentang ” Bagaimana Membangun Team Work Solid “, yang sebagian isinya diambil dari makna belajar dari alam.

Bayangkanlah pepohonan ditepi danau liar yang berangin. Mereka merunduk bersama bagaikan sebuah konser, semua gaya dalam sistem itupun menjadi seimbang. Pola gabungan lekukan pohon, tumbuhan dan akar – akar membuat mereka terpelihara dengan sendirinya dan utuh.

Bayangkan juga lereng – lereng diperbukitan yang sangat curam tempat dimana sering terjadi erosi. Jumlah pohonnya yang sedikit tidak dapat menahan massa tanah. Hujan lebat akan menghanyutkan tanah dikaki lerengsehingga terbentuk parit – parit.  Pola pepohonan yang buruk menyebabkan kurangnya akar yang dapat menahan massa tanah. Setiap kali angin berhembus atau turun hujan, erosi semakin kuat. Pola sistem ini melahirkan gaya – gaya yang dalam jangka panjang akan menghancurkan sistem tersebut. Sistem ini dihancurkan oleh dirinya sendiri, ia tak mampu menahan kekuatan – kekuatan yang muncul dari dalam dan dari luar.

Alam tidak peduli apakah pola sebuah lingkungan itu kreatif atau merusak. Bagi alam yang penting koheren, teratur, saling terkait, outbound, dunia outboundorganisasinya, yakni bagaimana setiap unsur lingkungan bekerja sama membentuk sebuah pola yang koheren. Bila kita melihat pola alam, tak ada pola yang sama dimana pun, kemiripan yang mungkin terlihat adalah dinamikanya. Bentuk dan jenis pepohonan menciptakan hubungan sangat kuat yang tak dapat dipisahkan. Pola pepohonan yang sehat akan merunduk bersama dengan harmonis dan indah saat tertiup angin, sedangkan pola yang buruk unsur – unsur lingkungannya akan saling merusak.

Begitu pula pada sebuah teamwork. Pepohonan terbentuk oleh akar, hujan, angin dan erosi. Sementara sebuah teamwork terbentuk dari prilaku anggota yang mempengaruhinya. Gambaran diri sebuah teamwork yang positif mirip pola angin dan pepohonan yang yang menjaga dirinya dengan kreatif, sedangkan gambaran diri team work yang buruk bagaikan pola hujan dan parit akibat erosi yang merusak dari dalam.

” Prilaku anggota team yang positif dan dapat bekerja sama merupakan syarat mutlak agar sebuah teamwork bisa solid ”

Ambillah tiga lembar kertas kosong, letakkan berjajar dengan jarak beberapa sentimeter seperti terlihat dibawah ini :

dunia outbound

Kertas ditengah biarkan kosong polos seperti gambar diatas, sementara untuk kertas sebelah kanan, tepat ditengah – tengahnya, silahkan gambar sebuah berlian kecil ( belah ketupat ). Dan untuk kertas sebelah kiri, di isi dengan coretan – coretan tak beraturan.

Pertanyaannya. Kira – kira, dari tiga lembar kertas tadi, kertas manakah yang paling tepat menggambarkan keseluruhan diri kita dengan segenap harapan, ketakutan dan kelemahan kita sebagaimana yang pernah atau sedang kita rasakan saat ini?. Kertas mana yang paling mendekati perasaan kita terhadap diri sendiri?.

Kebanyakan orang akan memilih kertas polos atau yang bergambar coretan tak beraturan. Hampir tak ada yang memilih kertas bergambar berlian. Padahal, kertas bergambar bintik berlian yang paling memiliki rasa, potensial, berkesan solid dan memusat saat kita memandangnya. Kertas polos menunjukkan kehampaan tanpa makna. Gambar coretan tak beraturan?, sudah jelas menggambarkan kondisi seperti apa.

Kita mungkinbertanya – tanya apakah tes ini akurat?. Untuk lebih meyakinkan, coba cermati beberapa kalimat dibawah ini, misalkan :

” Kita sedang bersama seseorang yang yang paling kita cintai di dunia ini. Kita memiliki ketiga kertas tersebut. Bayangkanlah, kertas mana yang akan kita berikan kepadanya?. Kemungkinan besar kita akan memberikan kertas bergambar titik berlian karena terasa lebih berharga dan bermakna dibanding dengan kertas lainnya.

Kebanyakan kita merasa kehidupan yang kita jalani hampa dan tak karuan, karena itu kebanyakn orang lebih memlilih kertas yang polos atau bergambar coretan. Sebenarnya kita tahu, kertas bergambar berlian lebih pantas dipilih, tetapi naluri didalam diri menyatakan bahwa kita kurang layak. Jadi, kita menganggap pilihan yang paling rasional adalah kertas polos atau kertas berisi gambar coretan. Masalahnya, pemikiran seperti itu pun sering terjadi dalam kehidupan nyata.

Bayangkan, bagaimana jadinya sebuah team jika para anggotanya rata – rata berpikiran seperti itu.

Secara tidak langsung, kita diajari bahwa diri ini eksis dan memang sudah begini adanya. Kita diajari bahwa setiap orang sudah menerima gen, lingkungan, dan sifatnya masing – masing dengan tepat. Kita dikondisikan menjadi objek – ” Me ” dalam bahasa Inggris, bukan ” i “. Jika menganggap diri kita adalah ” Me “, berarti kita terkungkung, hanya menjadi objek, selalu terbatas karena ” Me ” merupakan objek pasif, bukan subjek aktif. ” Me ” tidak melakukan tindakan, dia bergerak hanya karena kekuatan dari luar.

Jika menganggap diri kita objek, kita akan percaya pada gambaran yang diberikan orang lain ( orang tua, guru, teman, kolega, dan sebagainya ) mengenai diri kita. Kita akan menjadi apa yang mereka katakan. Kita mungkin ingin jadi seniman, tetapi orang lain mungkinb mengatakan bahwa bakat, pendidikan, atau watak kita tidak layak untuk itu. ” Me ” akan berkata pada diri sendiri, ” Memangnya kamu siapa? hanya orang biasa. Ayolah… ”

blindsided : lifting a life above illness, dunia outbound, richard cohenRichard Cohen, penulis buku Blindsided : Lifting A Life Abobe lllness, menjalani hidupnya dalam keadaan yang disebut ” penyakit “. Dia mengalami gangguan sistem syaraf, kebutaan, hampir tidak dapat bersuara, insomnia kronis, dan selalu kelelahan. Akibat dua kali terserang kanker usus besar dalam kurun waktu lima tahun terakhir membuat saluran pencernaan bagian bawahnya kacau. Walaupun kemudian dia sembuh dari penyakit itu, ketidaknyamanannya terus menerus membayangi hidupnya.

Cohen bekerja sebagai produser di stasiun CBS hingga secara fisik dia tidak mampulagi bekerja. Penyakit kronis yang menghambat dia untuk melakukan berbagai kegiatan dan ketidak mampuan fisik, awalnya membuat Cohen merasa tak berguna. Keluarga dan teman – temannya menyokong agar dia ditangani oleh Psikolog, tetapi Cohen menolak. Menurutnya, psikolog hanya fokus pada sesuatu yang salah pada dirinya, menjelaskan mengapa dia merasa tak berguna, dan mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya.  Bagi Cohen, metode seperti itu tidak berguna.

Cohen menyadari konsekuensi penyakitnya, tetapi dia sadar bahwa dia hanya dia, hanya dirinya sendiri, yang boleh mengendalikan nasibnya. Menurut Cohen, ” Satu hal yang selalu berada dalam kekusaan saya adalah apa yang terjadi dikepala saya. Hal pertama yang saya lakukan adalah berpikir tentang siapa saya dan bagaimana agar saya bisa menang. Secara sadar, saya dapat mengontrol berubah – ubahnya suasana hati saya sehingga saya merasa nyaman kepada diri saya sepanjang waktu “. Dia membiasakan sikap positif dengan menafsirkan setiap pengalaman secara positif.

Dia mengibaratkan hidupnya bagaikan berdiri dikapal yang diterjang ombak : tergelincir, menangkap sesuatu untuk berpegangan, jatuh dan menjadi tantangan tiada henti ketika harus bangkit dan mendorong diri sendiri untuk terus berusaha, hingga akhirnya perasaan paling menyenangkan idunia ini adalah saat kita berhasil bangkit dan bergerak maju smbil tersenyum.

Richard Cohen adalah subjek dari hidupnya, dia mengendalikan nasibnya sendiri. Seorang subjek adalah orang yang sangat hidup dan kreatif.

Bayangkan jika dalam sebuah team work, masing – masing anggotanya saling memberikan ” berlian ” untuk kemajuan team.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *