Semangat Pagi, Kawan!

Semoga hari ini dapat memberikan semangat baru buat kita semua. Belakangan ini negeri kita selalu dilanda bencana yang seolah tak ada habisnya. Mulai dari gempa, banjir, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus sampai dengan tsunami.

Diawali tahun 2004, tepatnya di 26 Desember 2004. Gempa dan tsunami meluluh lantakkan tanah Serambi Mekkah, Aceh. Bencana terbesar sepanjang negara ini berdiri, memakan ratusan korban jiwa yang pergi meninggalkan duka. Belum lagi yang hilang tanpa bekas. Lalu dilanjutkan dengan gempa di Jogjakarta, yang juga memakan korban sedemikian banyak. Setelah itu, sepertinya makin banyak saja bencana yang terjadi. Gempa di Papua, Longsor di Ciwidey, banjir dibanyak daerah, lalu ” seolah ” ditutup dengan Gempa besar yang melanda Padang di September 2009.

Sekarang, di penghujung 2010. Bencana besar kembali menimpa negeri kita. Banjir bandang di Wasior, Papua, meletusnya gunung Sinabung & Merapi dan gempa yang di ikuti tsunami di Kepulauan Mentawai.

Melihat sejarahnya, dari dulu negara kita memang seudah menjadi langganan bencana. Meletusnya gunung Krakatau di tahun 1883 salah satunya. Memakan korban sedemikian dasyat. Letusan Tambora, sampai melubangi atmosfir, sehingga mengganggu perubahan iklim dunia dan musim saat itu.

Itu dulu, pada saat belum banyak manusia yang hidup di negara kita. Bagaimana dengan kondisi sekarang?. Dimana jumlah penduduk negara kita sudah lebih dari 250 juta jiwa. Tentu akan banyak korban jika terjadi bencana. Dan itu hal yang pasti!!. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi itu?.

Ada yang teriak – teriak menyalahkan pemerintah, ada juga yang mengajak untuk intropeksi diri dan menganggap ini sebagai teguran dari Tuhan. Semua mempunyai pendapat dan cara berbeda.

Dan ada juga sebagian orang yang tidak lagi berbicara namun langsung mengambil tindakan. Para Relawan!. Orang – orang yang tanpa pamrih melakukan pertolongan dan bantuan pada saat bencana terjadi. Ada yang langsung turun kelapangan, menjadi tim tanggap darurat, ada juga yang menggalang dana dan bantuan lainnya. Semua saling berkesinambungan.

Namun amat disayangkan, kadang ” jiwa sosial ” yang teman – teman kita miliki ini belum didukung dengan skill / kemampuan serta pengetahuan yang memadai. Beberapa kali saya turun kelokasi bencana, banyak  saya menemukan para relawan yang bingung harus melakukan apa,  selain pengetahuan yang minim, peralatan dan perlengkapan mereka pun tidak memadai. Hal ini kadang malah mengganggu pergerakan. Artinya, niat baik mereka ingin membantu malah menjadi beban tambahan untuk relawan lainnya. Padahal,  setiap relawan itu harus memenuhi unsur SIAP.

SIAP disini adalah ;

S : Sehat, siapapun yang berniat menjadi relawan khususnya untuk tim tanggap darurat harus sehat jasmani dan rohani. Sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan malah merepotkan relawan lainnya.

I : Ilmu atau Skill. Ilmu apa sih yang harus dimiliki?!. Dalam materi Disaster Management, dijelasan banyak hal tentang keterampilan diwilayah bencana. Mulai dari Manajemen Barak  sampai dengan PPGD atau Pertolongan Pertama Gawat Darurat. Para Relawan minimal harus mempelajari materi – materi ini sebelum turun ke lapangan.

A : Anggaran Pribadi. Nah, ini yang kadang – kadang jadi dilema. Ingin membantu tapi tidak punya kemampuan material. Banyak cara untuk mengakali ini. Salah satunya adalah dengan bergabung dengan badan – badan sosial yang sudah besar di negara ini. Namun, tetap saja, anggaran pribadi harus disiapkan. Jangan sampai, menggalang dana di jalanan, lalu hasilnya lebih banyak di gunakan untuk ongkos ke lokasi bencana.

P : Peralatan atau perlengkapan Pribadi. Niat membantu dan menolong tapi perlengkapan minim? duh gawat!. Contoh deh, suatu ketika ada 10 relawan yang diberangkatkan dari Jakarta ke Aceh. Dari 10 yang diberangkatkan, hanya 6 orang yang membawa senter. Dapat Anda bayangkan, hanya senter. Namun apa efeknya. Pergerakan banyak terganggu, karena 6 senter tersebut harus digunakan untuk 10 orang!.

Nah, belajar dari situ. Mudah – mudahan, teman – teman, siapapun, yang berniat menjadi relawan – sebuah aktifitas yang mulia – bisa membekali diri sebelum terjun ke wilayah bencana. Selamat berbhakti pada kemanusiaan!.

Akhir kata, Tuhan bersama orang – orang berani!!

Semangaaaat!!

ibenlutung ( JI.001.08 )